Diare Terlalu Sering Pada Anak Meningkatkan Risiko Stunting

Sed ut perspiciatis unde
20 April

Diare Terlalu Sering Pada Anak Meningkatkan Risiko Stunting

Menurut dr. Ariani Dewi Widodo, SpA(K), seperti yang dimuat dalam kompas.com, diare pada anak-anak, khususnya pada usia di bawah 2 tahun, menjadi penyakit yang cukup berbahaya karena dapat menyebabkan stunting atau gagal tumbuh kembang. 

 

Diare terjadi karena ada gangguan vili usus. Vili usus yang rusak ini membuat penyerapan nutrisi anak menjadi terganggu. Namun, dokter spesialis anak dari RSIA Bunda Jakarta tersebut menegaskan, tidak semua diare dapat menyebabkan stunting. Hanya diare akut yang terjadi berulang-ulang kali dan diare kronis yang terjadi dalam waktu lama yang memungkinkan terjadinya stunting. (Baca juga: "Deteksi Dini Cegah Stunting, Perhatikan Berat Badan Anak")

 

Diare kronis adalah diare yang berlangsung selama lebih dari dua minggu, sementara diare akut berlangsung kurang dari 7-14 hari.  

 

“Stunting juga biasanya menyebabkan keadaan tubuh kurang baik sehingga bisa menyebabkan penyakit, salah satunya diare. Itu saling berhubungan,” jelas Ariani. 

 

Baca juga: “Agar Tak Panik, Begini Mengatasi Diare Pada Anak

 

Diare: cara tubuh mengusir kuman

Terkait diare, dalam Web MD dijelaskan bahwa diare sebenarnya adalah cara tubuh membersihkan diri dari kuman. Sebagian besar diare berlangsung beberapa hari hingga seminggu dan ada yang disertai demam, mual, serta muntah.

 

Penyebab diare yang paling sering adalah Infeksi virus (seperti rotavirus) dan infeksi bakteri (seperti salmonella) dan infeksi parasit meski ini lebih jarang. Anak balita rentan terkena diare terkait sistem kekebalan tubuhnya yang masih lemah dan kebersihan tubuhnya yang masih kurang terjaga. Anak balita, misalnya, belum terbiasa untuk mencuci tangan setelah bermain atau sebelum makan. (Baca juga: “Cara Menyenangkan Mengajari Anak Cuci Tangan”) Pada anak-anak yang lebih kecil, kebiasaan sering memasukkan benda ke mulut juga berpotensi menyebabkan diare. 

 

Hal penting dalam pengobatan diare adalah mencegah kehilangan cairan. Untuk itu, bayi dan anak yang terserang diare harus terus diberikan ASI atau larutan rehidrasi oral (oralit). Air putih tidak memiliki cukup natrium, kalium, dan nutrisi lain untuk merehidrasi anak-anak. 

 

Untuk anak-anak yang lebih besar dapat minum apa saja yang mereka sukai agar tetap terhidrasi, termasuk oralit dan produk bermerek (biasanya diakhiri dengan "lyte"). Menurut Web MD, es loli juga bisa menjadi cara yang baik untuk memasukkan cairan ke tubuh anak yang sudah mengalami muntah.

 

Diare biasanya hilang dalam beberapa hari, tapi anak perlu segera dikonsultasikan pada dokter ketika:

  • Terlihat terlalu lemah untuk berdiri
  • Bingung atau pusing
  • Tampak sangat sakit
  • Sudah diare lebih dari tiga hari
  • Berusia kurang dari 6 bulan
  • Muntah berupa cairan hijau atau kuning berdarah
  • Demam lebih dari 40°C atau untuk bayi di bawah 6 bulan lebih dari 37°C  (ditentukan oleh termometer dubur)
  • Tampak mengalami dehidrasi
  • Memiliki tinja berdarah
  • Bayi usia satu bulan mencret 3x atau lebih 
  • Anak mencret 4x dalam 8 jam dan tidak minum cukup
  • Anak punya sistem kekebalan tubuh lemah
  • Tampak ruam pada tubuh anak
  • Sakit perut selama lebih dari dua jam
  • Bayi belum buang air kecil dalam 6 jam atau 12 jam jika anak-anak

 

Bila GenBest ke dokter, pastikan untuk bertanya tentang jumlah cairan yang dibutuhkan anak, cara anak bisa mendapatkannya, kapan harus memberikan cairan itu, dan cara memperhatikan tanda-tanda dehidrasi.

 

Baca juga: "Memiliki Protein TInggi, Sering Konsumsi Ikan Bisa Mencegah Stunting"

CTA

INGIN TAHU LEBIH LANJUT SOAL PENCEGAHAN STUNTING?

Yuk simak penjelasan singkat pada info FAQ berikut ini.

lebih lanjut
To Top