Agar Tak Panik, Begini Mengatasi Diare pada Anak

Sed ut perspiciatis unde
30 Jul

Agar Tak Panik, Begini Mengatasi Diare pada Anak

Diare sering dianggap remeh oleh masyarakat. Padahal, diare pada anak-anak, khususnya pada usia di bawah 2 tahun, menjadi penyakit yang cukup berbahaya karena dapat menyebabkan stunting atau gagal tumbuh kembang.

 

Diare merupakan penyakit di mana seseorang melakukan buang air terus-menerus sehingga cairan di dalam tubuhnya mengalami kekurangan. Biasanya diare disebabkan oleh banyak hal, mulai dari virus, bakteri, keracunan makanan, parasit, hingga penyebab yang lebih serius, seperti karena adanya infeksi di saluran cerna.

 

Penyebab lainnya pada adalah alergi susu sapi yang bisa membuat kotoran menjadi encer, bahkan mengeluarkan darah yang dapat dialami oleh bayi sejak berusia 2 bulan, apabila mengonsumsi susu formula dan intoleran laktosa. Pada bayi, kondisi ini seringkali terjadi terutama saat mengonsumsi ASI. Normalnya, ASI membuat kotoran menjadi encer.

 

Diare bisa terjadi karena ada gangguan vili usus. Vili menjadi rusak (dan) penyerapan terganggu. Padahal, penyerapan dalam usus ini sangat bermakna. Karena tadinya dia punya penyerapan yang baik, kemudian jadi rata. Nutrisinya jadi tidak terserap. Diare bisa disebabkan oleh berbagai macam hal: keracunan makanan, infeksi kuman, dan stres. Namun pada anak-anak, mayoritas penyebab diare adalah virus.

 

Yang perlu dipahami, GenBest, tidak semua diare dapat menyebabkan stunting. Namun, diare yang terjadi berulang-ulang dan diare kronis yang terjadi dalam waktu lama pada anak-anak memungkinkan terjadinya stunting. Diare kronis itu biasanya dua minggu ke atas. Kalau diare akut kurang dari 7-14 hari, tapi kalau yang akut berulang-ulang itu bisa menyebabkan stunting.

 

Di sisi lain, stunting juga biasanya menyebabkan keadaan tubuh kurang baik sehingga juga bisa menyebabkan penyakit, salah satunya diare. Itu saling berhubungan. Pada saat diare, ada banyak cairan dan mikro nutrien yang terbuang dari dalam tubuh. Salah satu mikro nutrien penting yang terbuang adalah zinc. Ketika zinc terbuang, maka villi usus yang rusak tidak bisa diregenerasi kembali oleh zinc. Oleh karenanya, pada kondisi ini stunting bisa terjadi.

 

Lantas, bagaimana membedakannya dengan diare? 

1. Saat kondisi normal, kotoran bayi berwarna kuning, meskipun terkadang berwarna hijau. 

2. Selain itu juga, bayi cenderung buang air lebih dari 6 kali sehari. Sampai usia 2 tahun, angka buang air akan berkurang.

3. Jika tiba-tiba saja buang airnya meningkat diserta kotoran yang encer, barulah diwaspadai hal itu sebagai diare. Apalagi, bila kotorannya berbau tidak sedap dan mengandung darah. 

4. Gejala lainnya adalah bayi kesultan makan, sakit, dan demam.

Meskipun bukan penyakit yang terlalu serius, diare menyebabkan dehidrasi. Dehidrasi artinya tubuh kehilangan banyak cairan. Kebanyakan anak yang menderita diare tidak perlu pergi ke dokter.


Dikutip dari seattlechildren.com, ada hal-hal yang perlu diperhatikan saat anak ketika diare. Simak, yuk!

1. Untuk anak dengan diare yang tidak terlalu parah, anak dapat makan makanan seperti biasanya. 

2. Banyak minum cairan sangat penting guna menghindari dehidrasi. 

3. Pada bayi, ASI ataupun susu formula menjadi pilihan terbaik, karena banyaknya vitamin dan mineral yang terdapat pada susu. 

4. Hindari meminum jus buah ataupun makanan, seperti sereal, kraker, nasi ataupun pasta, karena mudah dicerna dan membuat diare bertambah buruk.

5. Konsumsi juga probiotik, bakteri sehat, seperti lactobacilli, karena bisa menggantikan bakteri jahat yang ada di dalam perut. 

6. Untuk anak berusia lebih dari 12 bulan bisa mencoba mengonsumsi yogurt sebagai sumber probiotik.


(Foto: Shutterstock)
 

CTA

INGIN TAHU LEBIH LANJUT SOAL PENCEGAHAN STUNTING?

Yuk simak penjelasan singkat pada info FAQ berikut ini.

lebih lanjut
To Top