7 Sep

GenBest, setiap hari pasti bersemangat memberi stimulasi pada si kecil, bukan? Menurut penelitian, stimulasi di periode emas pertumbuhan anak memang sangat berperan untuk kecerdasannya. Karena hingga usia 2 tahun, otak sedang berkembang sangat pesat dan stimulasi akan membuat anak belajar tentang banyak hal.

 

Meski begitu, apa pun yang berlebihan tentu tidak baik, termasuk overstimulasi. Direktur Olifant School Yogyakarta, Deasy Andriani, Psi pada Kompas.com menjelaskan overstimulasi adalah memberikan stimulasi/kegiatan yang tidak sesuai dengan tumbuh kembang anak.

 

Contoh, menstimulasi anak untuk berjalan sebelum waktunya, padahal kakinya belum kuat. Namun saat kita tidak memberikan kebebasan pada anak untuk eksplorasi, itu juga termasuk overstimulasi.

 

Baca Juga: Jangan Sampai Terlewat, Ini 4 Area Penting dalam Perkembangan Anak

 

Perlu diketahui, overstimulasi bisa terjadi pada si kecil tanpa kita sadari. Misalnya, si kecil yang baru lahir tiba-tiba rewel setelah dia dipeluk oleh banyak orang, ini merupakan overstimulasi.  Saat si balita mengamuk setelah acara pesta ulang tahun, juga bisa masuk kriteria overstimulasi karena anak terlalu dibanjiri oleh aktivitas dan kebisingan yang tidak dapat dia atasi.

 

Namun jangan sampai kekhawatiran overstimulasi ini menghentikan kita memberi stimulasi pada si kecil. Prinsipnya, semangat boleh, tapi jangan berlebihan. Jadi mulai sekarang saat memberi stimulasi, coba mulai perhatikan si kecil. Stimulasi yang menyenangkan akan membuat dia terlibat dalam suatu aktivitas dengan antusias dan tampak menikmati.

 

Sementara stimulasi berlebihan terjadi ketika anak menunjukkan ketidaktertarikan atau penolakan terhadap aktivitas yang biasa mereka nikmati.  

 

Nah, ini beberapa tanda anak sudah overstimulasi:

  1. Si kecil menangis kencang.
  2. Rewel, merasa tidak nyaman, dan mulai sulit dihibur.
  3. Mulai memalingkan wajah saat diajak bicara.
  4. Menghentak-hentakkan kaki atau mengepalkan tangan.

 

Jika GenBest melihat ada tanda-tanda itu, peluk dan hibur si kecil dan biarkan dia bermain sendiri. Kita juga bisa menenangkan si kecil dengan mengajaknya ke kamar atau lokasi yang lebih sepi agar dia merasa lebih nyaman.

 

Baca Juga: Tahapan Kemampuan Motorik Anak dari Usia 1-9 Bulan

 

Lalu bagaimana kita tahu stimulasi yang pas untuk anak? Setiap anak akan berbeda-beda, namun biasanya kepribadian anak memainkan peran besar dalam cara dia menerima stimulasi.

Anak yang pemalu dan pendiam, mungkin lebih memilih stimulasi berupa aktivitas yang tenang dan membutuhkan lebih sedikit interaksi dengan orang lain. Sebaliknnya anak yang ekstrover akan senang stimulasi di luar rumah dan bertemu banyak orang. Jadi sambil terus memberi stimulasi, GenBest juga perlu memahami kepribadian si kecil.

 

Mengapa? Karena dalam jangka panjang, overstimulasi dikhawatirkan bisa menyebabkan anak menolak hal-hal yang baru, bahkan menjadi kurang responsif dan cuek dengan lingkungan sekitarnya.

 

Kesimpulannya GenBest, meskipun stimulasi bisa memberikan manfaat perkembangan jangka pendek dan jangka panjang bagi si kecil, namun tahan godaan untuk memberinya stimulasi berlebihan. Yakinlah bahwa si kecil akan mendapat manfaat dari stimulasi yang sesuai dengan usia dan kepribadiannya.  

 

Baca Juga: Pahami Cara Menstimulasi Kemampuan Motorik Dasar Bayi

TENTANG KAMI

GenBest merupakan sebuah inisiasi untuk menciptakan generasi Indonesia yang bersih dan sehat, serta bebas dari stunting (klik di sini untuk mengetahui apa itu stunting), dengan mendorong masyarakat dari segala usia menerapkan pola hidup bersih dan sehat sehari-hari. Lewat situs dan media sosial genbest.id, kami menyediakan informasi yang kredibel, menciptakan komunitas yang suportif, dan memberikan pengetahuan kesehatan yang mendalam seputar pola hidup bersih dan sehat, serta stunting, bagi Anda sekeluarga, termasuk si kecil yang masih dalam kandungan dan berusia balita.

How to coax children
To Top