Tanda-tanda Anemia pada Anak yang Sering Tidak Disadari Orang Tua

Sed ut perspiciatis unde
24 Maret

Tanda-tanda Anemia pada Anak yang Sering Tidak Disadari Orang Tua

Anemia atau akrab disebut kurang darah banyak dialami anak Indonesia. Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, tercatat 28,1 persen balita mengalami anemia, sementara pada 2018 meningkat menjadi 38,5 persen. Kebanyakan anemia disebabkan kekurangan zat besi. Karena itulah sering disebut Anemia Defisiensi Besi (ADB).  

 

Dampak ADB bisa serius. Selain dapat mengganggu tumbuh kembang anak sehingga berisiko mengalami stunting, kekurangan zat besi juga bisa membuat kekebalan tubuh anak turun dan kecerdasannya berkurang(Baca juga: “Benarkah Anemia Bisa Pengaruhi Daya Pikir Anak”). Dengan kata lain, anak jadi sering sakit-sakitan dan nggak pintar. 

 

Kok, bisa begitu? Ini karena fungsi zat besi dalam tubuh sangat penting, yaitu membentuk sel darah merah atau hemoglobin (Hb). Hemoglobin punya peran sebagai pengikat dan pengantar oksigen dari paru-paru ke seluruh organ tubuh. Hemoglobin juga berperan dalam pembuangan karbondioksida dari sel-sel tubuh ke paru-paru. Ibaratnya, hemoglobin ini adalah moda transportasi yang mengantar kita ke mana-mana. Kalau moda transportasinya terganggu, seluruh fungsi organ di tubuh anak juga jadi terganggu, bukan?

 

Tanda-tanda Anemia Defisiensi Besi pada Anak

Tanda-tanda atau gejala anemia pada anak yang paling umum adalah wajah anak jadi terlihat pucat. Anak juga cepat capek, lesu, dan lemas. Tapi nggak hanya itu, ada beberapa tanda anemia pada anak yang sering tidak disadari orang tua, seperti bagian kelopak mata, bibir, dan area di bawah kuku anak terlihat pucat, warna pipis (urine) gelap seperti teh, hingga kulit di sekitar mata terlihat kekuningan. 

 

Anak rewel juga bisa berhubungan dengan anemia. Sebelumnya mungkin kita beranggapan rewelnya si kecil adalah hal yang biasa terjadi. Namun kalau kerewelan itu dibarengi dengan gejala anak yang sulit fokus, jika diajak berbicara, hal ini bisa juga menjadi tanda-tanda anemia.

 

Pada tahap akut, anemia kekurangan besi akan menunjukkan gejala yang  lebih serius. Seperti napas pendek, tangan dan kaki anak menjadi bengkak, kebiasaan makan yang berubah, anak sering mengeluh sakit kepala, detak jantung menjadi sangat cepat, hingga anak mengalami pingsan.

 

Cara Mengatasi Anemia pada Anak

Begitu melihat beberapa gejala anemia seperti yang dijelaskan di atas, sebaiknya segera periksakan anak ke dokter. Pada website IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia), Dr. dr. Rini Purnamasari, Sp.A., menjelaskan bahwa ADB dapat dan harus segera diobati dengan memberikan suplemen zat besi pada anak.  

 

Suplemen ini umumnya perlu diminum setiap hari selama 2-3 bulan supaya kadar Hb anak jadi normal dan anak memiliki cadangan zat besi dalam tubuhnya. Dengan pemberian suplemen yang teratur, kadar Hb anak biasanya akan meningkat 1g/dl tiap 1-2 minggu. 

 

Penyerapan zat besi, tulis Rini, dapat ditingkatkan dengan pemberian vitamin C. Rini juga mengingatkan bahwa penyerapan zat besi akan berkurang akibat zat tanin (yang ada pada teh), susu, telur, fitat, dan fosfat yang terdapat dalam tepung gandum.  

 

Setelah kadar besi normal di dalam tubuh, diperlukan pencegahan agar anak tidak sampai jatuh dalam keadaan anemia lagi. Beberapa hal yang disarankan Rini adalah menghindari minum susu segar sapi berlebihan. Selain itu, anak juga perlu mendapat makanan yang bergizi dan bervariasi, termasuk makanan yang kaya zat besi, seperti daging, ikan, ayam, dan hati.

 

Selain memastikan asupan zat besi anak, jangan lupa pantau terus pertumbuhan dan perkembangan anakNah, sekarang GenBest juga bisa memantau pertumbuhan anak langsung dari HP Android GenBest. Download apps “Anak Sehat” di Google Play Store, yang punya fitur pemantauan pertumbuhan anak melalui KMS Digital, agar si kecil terhindar dari ADB dan stunting sejak dini.

CTA

INGIN TAHU LEBIH LANJUT SOAL PENCEGAHAN STUNTING?

Yuk simak penjelasan singkat pada info FAQ berikut ini.

lebih lanjut
To Top