Mengapa Anak Stunting Memiliki IQ Lebih Rendah? Ini Faktanya

Sed ut perspiciatis unde
19 Jul

Mengapa Anak Stunting Memiliki IQ Lebih Rendah? Ini Faktanya

Stunting merupakan salah satu masalah kesehatan yang menjadi perhatian pemerintah saat ini karena dampak negatifnya yang begitu serius. Penderita stunting tidak hanya akan mengalami gagal tumbuh dengan daya tahan tubuh yang begitu buruk sehingga sering sakit-sakitan, namun juga memiliki IQ yang rendah.

 

Mengapa IQ anak stunting turun?

Stunting umumnya terjadi pada masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (dari masa anak dalam kandungan hingga berusia dua tahun). Kekurangan gizi yang lama inilah yang akhirnya mengganggu kecerdasan penderitanya. 

 

Seperti GenBest ketahui, pada masa emas pertumbuhan anak, otak sedang berkembang pesat.  Karena itulah kondisi kekurangan gizi pada masa ini akan membuat asupan energi yang dibutuhkan untuk perkembangan otak tidak cukup sehingga berpengaruh pada kecerdasan penderitanya. 

 

Menurut penelitian Dr. dr. Damayanti Rusli Sjarif, Sp.A(K),  anak yang mengalami gizi buruk di bawah usia satu tahun, 25% berisiko memiliki tingkat kecerdasan di bawah 70, dan 40% lainnya berisiko memiliki IQ antara 71-90. 

 

Artinya, dengan tingkat IQ  tersebut, kemampuan akademis anak akan terganggu. Ketidakmampuan pada otak ini,  lanjur dr. Damayanti, disebabkan pola makan yang salah, yakni tidak mengandung lemak, karbohidrat dan protein hewani.

 

Baca Juga: Berat Badan Kurang Bisa Ganggu Perkembangan Otak, Kok, Bisa?

 

Pencegahan stunting untuk meningkatkan IQ anak

Lalu bagaimana untuk mencegah anak stunting memiliki IQ yang rendah? Sayangnya anak yang sudah menderita stunting, dampaknya akan sulit diperbaiki, termasuk masalah IQ-nya yang rendah ini. Yang bisa kita lakukan adalah mencegah kejadian stunting dengan memastikan terpenuhinya kebutuhan nutrisi anak. Dokter Damayanti juga mengingatkan hingga usia dua tahun anak tidak boleh kekurangan nutrisi, karena dampaknya yang irreversible  (tidak bisa diubah lagi).

 

Konsultan nutrisi dan penyakit metabolik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini menjelaskan nutrisi otak anak yang dibutuhkan hingga usia dua tahun adalah lemak, karbohidrat dan protein hewani. Protein hewani, lanjutnya, mengandung asam amino esensial yang lengkap, lebih efektif dicerna dalam tubuh, dan berperan mencegah hambatan pertumbuhan. 

 

Menurut pakar penyakit nutrisi dan metabolik anak ini, dari beragam protein hewani seperti telur, ikan, susu, ayam, dan daging, protein yang memiliki efek paling bagus untuk otak dan tinggi badan adalah susu. Sayangnya konsumsi susu di Indonesia masih rendah.

 

Selain pemenuhan gizi anak, langkah pencegahan stunting lainnya adalah perlunya pemantauan tumbuh kembang anak di fasilitas kesehatan yang dilakukan secara berkala. Pemantauan ini dapat membantu mengetahui status gizi anak dari pengukuran tinggi badan, berat badan, dan ukuran lingkar kepala yang rutin dilakukan. Dari situ,  anak yang berpotensi terkena gizi buruk dapat dideteksi dini, sehingga lebih mungkin untuk diatasi dan tidak merembet hingga ke masalah stunting dan penurunan IQ saat ia dewasa.

 

Baca Juga: Makanan Kaya Nutrisi untuk Memaksimalkan Kinerja Otak Anak

CTA

INGIN TAHU LEBIH LANJUT SOAL PENCEGAHAN STUNTING?

Yuk simak penjelasan singkat pada info FAQ berikut ini.

lebih lanjut
To Top