Susu Pertumbuhan Bisa Bantu Tekan Angka Stunting

Sed ut perspiciatis unde
27 Mei

Susu Pertumbuhan Bisa Bantu Tekan Angka Stunting

GenBest apakah si kecil rajin minum susu? Selepas usia 1 tahun, kalau sudah tidak menyusu ASI lagi, si kecil boleh kok minum susu pertumbuhan.  Kalau kita lihat dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 41 Tahun 2014 tentang Pedoman Gizi Seimbang, susu masuk dalam kategori lauk pauk sumber protein bersama ikan, telur, daging, dan kacang. Bahkan, susu termasuk sebagai salah satu protein hewani terbaik yang mudah diserap oleh tubuh.

 

Susu merupakan pangan kaya nutrisi sehingga dalam satu gelas pertumbuhan  (growing-up milk) si kecil akan mendapatkan berbagai zat gizi yang akan bermanfaat bagi tumbuh kembangnya. Ditambah lagi, adanya protein dalam growing-up milk juga membantu memenuhi kebutuhan protein dalam tubuh si kecil.

 

Protein menjadi penekanan di sini karena banyak anak balita di Indonesia yang masih kekurangan protein. Hasil Riskesdas 2013 menyebutkan kondisi konsumsi makanan ibu hamil dan balita tahun 2016-2017 menunjukkan di Indonesia 1 dari 5 ibu hamil kurang gizi, 7 dari 10 ibu hamil kurang kalori dan protein, 7 dari 10 Balita kurang kalori, serta 5 dari 10 Balita kurang protein.

 

Seperti kita ketahui, kekurangan protein dalam jangka panjang bisa menjadi penyebab kekurangan gizi dan meningkatkan risiko stunting. Stunting merupakan kondisi gagal pertumbuhan pada anak (pertumbuhan tubuh dan otak) akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama sehingga, anak lebih pendek dari anak normal seusianya dan memiliki keterlambatan dalam berpikir.

 

Hubungan Konsumsi Protein Hewani dan Stunting

Menurut Dr. dr. Damayanti R Sjarif SpA(K), konsultan nutrisi dan penyakit metabolik dari FKUI dan RSCM, stunting dapat dicegah dengan memperhatikan kuantitas dan kualitas protein yang dikonsumsi balita.“Menurut penelitian anak yang mendapat protein 15% dari total asupan kalori, mempunyai tinggi badan yang lebih dibandingkan anak yang mendapat protein 7,5% dari total kalori," jelas dr. Damayanti.

 

Untuk itu anak khususnya batita, dianjurkan mengonsumsi 1,1 gram protein per kilogram berat badan setiap hari. Protein yang diperlukan adalah protein yang berkualitas tinggi. Nah, protein berkualitas tinggi bisa didapat dari sumber hewani seperti daging sapi, ayam, ikan, telur, dan susu.

 

Mengapa protein hewani?  Karena asupan protein hewani mengandung asam amino esensial yang lengkap dan cukup serta mudah dicerna dan diserap di usus halus. Protein nabati tidak memenuhi persyaratan karena mengandung asam amino yang tidak lengkap. Protein nabati juga lebih sulit dicerna dan diabsorbsi. 

 

Tetap Penuhi Kebutuhan Nutrisi Anak

Hal terpenting dalam memenuhi kebutuhan nutrisi batita adalah asupan nutrisi dari makanan tidak bisa digantikan dengan segelas susu. Jadi, meskipun growing-up milk dikenal dengan kandungan nutrisi yang dibutuhkan si kecil, bukan berarti tidak perlu memerhatikan asupan makannya, ya, GenBest.

 

Genbest harus terus mengajak si kecil untuk memiliki kebiasaan makan yang sehat. Susu perlu, tetapi harus dibarengi dengan makanan yang bergizi seimbang. 

CTA

INGIN TAHU LEBIH LANJUT SOAL PENCEGAHAN STUNTING?

Yuk simak penjelasan singkat pada info FAQ berikut ini.

lebih lanjut
To Top