Nikah di Usia Remaja Memperbesar Risiko Anak Stunting

Sed ut perspiciatis unde
23 Mei

Nikah di Usia Remaja Memperbesar Risiko Anak Stunting

Bila ada pertanyaan apa yang menjadi salah satu tantangan Indonesia di bidang gizi dan kesehatan, mungkin kita akan menjawab serempak: stunting. Penyebab masalah gangguan pertumbuhan pada anak ini multifaktor, salah satunya pernikahan dini di usia remaja. 

 

Data dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012 menunjukan bahwa angka kematian neonatal, postnatal, bayi dan balita pada ibu yang berusia kurang dari 20 tahun lebih tinggi dibandingkan pada usia 20-39 tahun. 

 

Ketidaksiapan secara fisik dan mental pada ibu yang hamil pada usia muda mengakibatkan berbagai tantangan selama proses kehamilan hingga melahirkan. Dalam jangka panjang, terbatasnya pengetahuan ibu tentang pentingnya persiapan gizi pada masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan juga meningkatkan berbagai risiko kesehatan pada anaknya, termasuk stunting.  

 

Dengan risiko yang cukup besar ini, maka tidak heran jika remaja diminta menunda kehamilan hingga usianya cukup. Karena menjalani kehamilan di usia remaja memiliki berbagai risiko seperti berikut ini:

 

Keguguran

Organ reproduksi di usia remaja memang sudah berfungsi, namun kematangannya belum sempurna. Ini yang menyebabkan kehamilan di usia remaja rentan mengalami keguguran. 

 

Anemia

Kehamilan pada usia remaja memiliki risiko tinggi untuk terkena gangguan anemia kronis. Terbaginya kebutuhan zat besi untuk diri sendiri dan bayi bisa menyebabkan remaja putri mengalami lemas bahkan pingsan. 

 

Kejadian anemia saat hamil dapat meningkatkan risiko bayi lahir prematur dan penderita kesulitan dalam proses melahirkan. Pada tingkat yang sudah parah, anemia saat kehamilan akan memengaruhi pertumbuhan bayi dalam kandungan. 

 

Bayi prematur dan berat badan lahir rendah

Belum adanya pengetahuan tentang pentingnya kebutuhan nutrisi di 1.000 hari pertama kehidupan, terkadang membuat calon ibu mengalami kurang gizi selama kehamilan dan melahirkan prematur.

 

Bayi yang lahir prematur umumnya memiliki berat badan lahir rendah. Fakta dari International Journal of Epidemiology mengungkapkan ibu yang berusia 10-19 tahun memiliki risiko 14% lebih tinggi melahirkan bayi berat badan lahir rendah dibandingkan ibu usia 20-24 tahun.

 

Stunting  

Kebutuhan gizi anak dimulai sejak 1.000 hari pertama kehidupan atau saat kehamilan hingga usia 2 tahunKehamilan remaja dapat menyebabkan bayi lahir dengan risiko stunting lebih tinggi karena umumnya remaja belum memperoleh edukasi secara menyeluruh mengenai kehamilan dan perawatan gizi bayi. 

 

Gangguan pada vagina

Dampak kehamilan lainnya di usia remaja adalah kerusakan di area serviks dan sekitarnya. Memang beberapa ibu di atas usia 20 tahun juga mengalami luka robek vagina saat melahirkan. Namun, yang membedakan fungsi organnya sudah maksimal, sehingga kemungkinan sembuh akan lebih cepat dan optimal.

 

Depresi

Remaja yang hamil juga bisa mengalami depresi akut. Depresi ini muncul pasca-persalinan dalam bentuk baby blues, postpartum depression, dan gangguan lainnya. Kemungkinan depresi akan lebih tinggi jika kehamilan remaja dipicu oleh seks pranikah karena secara mental yang bersangkutan belum siap menjadi ibu.

 

Hipertensi

Kehamilan di usia remaja juga berisiko preeklampsia (komplikasi kehamilan) yang ditandai dengan tekanan darah tinggi, adanya protein yang larut dalam urine, dan tanda kerusakan organ lainnya. Pengobatan harus segera dilakukan untuk mengontrol tekanan darah dan mencegah komplikasi, namun hal ini juga dapat mengganggu pertumbuhan bayi dalam kandungan.

CTA

INGIN TAHU LEBIH LANJUT SOAL PENCEGAHAN STUNTING?

Yuk simak penjelasan singkat pada info FAQ berikut ini.

lebih lanjut
To Top