Kenali 4 Faktor yang Sebabkan Stunting

Sed ut perspiciatis unde
8 Agustus

Kenali 4 Faktor yang Sebabkan Stunting

Tahukah GenBest, kalau stunting disebabkan oleh faktor multi dimensi dan tidak hanya disebabkan oleh faktor gizi buruk yang dialami oleh ibu hamil maupun anak balita?

 

Intervensi yang paling menentukan untuk dapat mengurangi pervalensi stunting oleh karenan ya perlu dilakukan pada 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) dari anak balita.

 

Inilah faktor yang menjadi penyebab stunting:

 

 1. Praktek pengasuhan yang kurang baik

Kurangnya pengetahuan ibu mengenai kesehatan dan gizi sebelum dan pada masa kehamilan, serta setelah ibu melahirkan. Beberapa fakta dan informasi yang ada menunjukkan bahwa 60 persen dari anak usia 0-6 bulan tidak mendapatkan air susu ibu (ASI) secara ekslusif, dan 2 dari 3 anak usia 0-24 bulan tidak menerima makanan pendamping ASI (MPASI).

 

MPASI mulai diperkenalkan ketika balita berusia diatas 6 bulan. Selain berfungsi untuk mengenalkan jenis makanan baru pada bayi, MPASI juga dapat mencukupi kebutuhan nutrisi tubuh bayi yang tidak lagi dapat disokong oleh ASI, serta membentuk daya tahan tubuh dan perkembangan sistem imunologis anak terhadap makanan maupun minuman.

 

2. Masih terbatasnya layanan kesehatan

Termasuk layanan ANC/Ante Natal Care (pelayanan kesehatan untuk ibu selama masa kehamilan), Post Natal Care dan pembelajaran dini yang berkualitas. Informasi yang dikumpulkan dari publikasi Kemenkes dan Bank Dunia menyatakan bahwa tingkat kehadiran anak di posyandu semakin menurun dari 79% di 2007 menjadi 64% di 2013, dan anak belum mendapat akses yang memadai ke layanan imunisasi.

 

Fakta lain adalah 2 dari 3 ibu hamil belum mengkonsumsi sumplemen zat besi yang memadai serta masih terbatasnya akses ke layanan pembelajaran dini yang berkualitas (baru 1 dari 3 anak usia 3-6 tahun belum terdaftar di layanan PAUD/Pendidikan Anak Usia Dini).

 

3. Masih kurangnya akses keluarga ke makanan bergizi

Hal ini dikarenakan harga makanan bergizi di Indonesia masih tergolong mahal.Menurut beberapa sumber (RISKESDAS 2013, SDKI 2012, SUSENAS), komoditas makanan di Jakarta 94% lebih mahal dibanding dengan di New Delhi, India. Harga buah dan sayuran di Indonesia lebih mahal daripada di Singapura. Terbatasnya akses ke makanan bergizi di Indonesia juga dicatat telah berkontribusi pada 1 dari 3 ibu hamil yang mengalami anemia.

 

4. Kurangnya akses ke air bersih dan sanitasi

Data yang diperoleh di lapangan menunjukkan bahwa 1 dari 5 rumah tangga di Indonesia masih buang air besar (BAB) diruang terbuka, serta 1 dari 3 rumah tangga belum memiliki akses ke air minum bersih.

 

Satu hal yang tak kalah penting ialah memastikan agar anak-anak juga harus tinggal di lingkungan yang bersih yang ditandai dengan setiap orang menggunakan jamban sehat dan sanitasi baik. (Foto: Free-Photos dari Pixabay )

CTA

INGIN TAHU LEBIH LANJUT SOAL PENCEGAHAN STUNTING?

Yuk simak penjelasan singkat pada info FAQ berikut ini.

lebih lanjut
To Top