BAB Sembarangan Bisa Bikin Balita Stunting. Kok, Bisa?

Sed ut perspiciatis unde
21 Mei

BAB Sembarangan Bisa Bikin Balita Stunting. Kok, Bisa?

Dalam upaya pencegahan stunting pada anak, sanitasi selalu dipandang sebelah mata. Pemikiran yang ada di masyarakat soal sanitasi bisa ditangani belakangan. Padahal sanitasi yang buruk bisa berakibat fatal bagi kesehatan lingkungan, bahkan salah satunya dapat memicu stunting pada balita.

 

Menurut Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes RI, stunting tak hanya dipicu asupan gizi yang tidak mencukupi, namun juga sanitasi yang buruk. Salah satu unsur sanitasi yang baik adalah tidak BAB sembarangan, atau yang selama ini digalakkan pemerintah dengan kampanye Stop BAB Sembarangan. 

 

Permasalahan BAB sembarangan memang tantangan tersendiri di berbagai daerah, umumnya perkotaan yang memiliki perkampungan padat penduduk atau perkampungan bantaran sungai. Biasanya mereka melakukan perilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS) dengan alasan tidak adanya fasilitas MCK yang memadai. 

 

Persoalan ini membuat suatu daerah atau provinsi gagal mencapai 100% Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) yang ditetapkan Kemenkes. Risiko yang muncul jika masyarakat sering BAB sembarangan adalah tingginya angka stunting pada balita.

 

Apa hubungan BAB sembarangan dan stunting?

Kementerian Kesehatan RI menyebutkan, BAB sembarangan dapat berpengaruh pada asupan nutrisi yang tidak optimal. Berdasarkan data Kemenkes, pada tahun 2019 akses sanitasi baru 78% dari sekitar 65 juta kepala keluarga di Indonesia. Artinya masih ada 15 juta KK yang masih melakukan perilaku BAB sembarangan di tempat terbuka. 

 

Kasus jamban dengan saluran pembuangannya yang salah juga menjadi salah satu masalah BAB sembarangan yang disoroti pemerintah. Selain itu, jamban dengan septic tank yang tidak disedot secara rutin dengan baik memungkinkan terjadinya kebocoran yang mencemari air tanah. 

 

Ketika ibu hamil atau anak pada periode emas pertumbuhannya mengonsumsi atau membersihkan diri dengan air tanah yang tercemar kotoran manusia tersebut, maka risiko terkena stunting sangat besar. Risiko terkena stunting ini didapatkan saat mereka mulai mengalami gangguan pencernaan berkepanjangan, di antaranya; diare kronis, tifus, cacingan hingga hepatitis. 

 

Selama ini diare dianggap sebagai perkara sepele, padahal jika gangguan pencernaan ini terjadi pada 1.000 hari pertama kehidupan akibatnya anak bisa terkena stunting. Karena tubuh kehilangan nutrisi-nutrisi yang dibutuhkan, sehingga asupan gizinya tidak terpenuhi. 

Kasus kekurangan nutrisi yang berlarut merupakan gerbang awal dari stunting pada anak. Masalah ini juga memicu terjadinya tifus yang dapat membuat anak kehilangan nafsu makan dan memperbesar risiko anak terkena stunting.

 

BAB sembarangan dapat menyebabkan cacingan

Tinja atau kotoran manusia merupakan media berkembangnya bibit penyakit menular, salah satunya cacing. Infeksi cacing (cacingan) berhubungan erat dengan perilaku buang air besar sembarangan. Kotoran akibat BAB sembarangan yang berada di lingkungan terbuka adalah lahan subur perkembangbiakan cacing. Umumnya telur cacing bertahan di lingkungan yang lembab, kemudian berkembang menjadi telur infektif.

 

Telur cacing infektif yang ada di tanah dapat tertelan masuk ke dalam pencernaan anak. Biasanya anak-anak yang bermain tanah dan tidak langsung mencuci tangan memiliki risiko yang besar terinfeksi cacing. Jika cacing berkembangbiak pada tubuh si kecil pada periode emas pertumbuhan anak akan menempel pada usus dan menyerap zat-zat nutrisi pada tubuhnya. 

 

Jika kondisi ini terus menerus dibiarkan, balita akan mengalami kekurangan gizi yang dapat membuat anak terkena stunting. Begitu juga jika ibu hamil yang terkena cacingan, karena upaya cegah stunting sudah dimulai sejak kehamilan atau 1.000 hari pertama kehidupan.

CTA

INGIN TAHU LEBIH LANJUT SOAL PENCEGAHAN STUNTING?

Yuk simak penjelasan singkat pada info FAQ berikut ini.

lebih lanjut
To Top