4 Faktor yang Menjadikan Anak Cerdas

Sed ut perspiciatis unde
26 Agustus

4 Faktor yang Menjadikan Anak Cerdas

Memang, ada yang mengatakan kecerdasan itu ditentukan oleh faktor keturunan. Kalau orangtuanya pintar, anaknya juga ikut pintar. Yang kasihan, bagaimana bila orangtua kurang pintar? Untunglah teori ini dapat dimentahkan banyak ahli. Faktor keturunan berperan hanya sedikit pada kecerdasan. Sisanya, faktor lingkunganlah yang banyak berperan. 

Apa sajakah faktor lingkungan yang dapat menjadikan anak cerdas, berikut di antaranya: 


1. Menyusui secara eksklusif
Air susu ibu (ASI) adalah makanan terbaik yang diberikan secara gratis, mudah, dan banyak oleh Tuhan untuk bayi. Untuk itu, manfaatkan makanan terbaik ini untuk mencerdaskan si kecil. Caranya dengan memberi bayi ASI secara eksklusif selama 6 bulan. Artinya, anak hanya menyusu ASI, tanpa diberi makanan dan minuman apa pun, termasuk air putih. Kaitan ASI dan kecerdasan sudah banyak diteliti para pakar. Salah satunya riset The Science of Breastfeeding and Brain Development yang diterbitkan Breastfeeding Medicine pada 2017. Tim peneliti dari Brigham and Women's Hospital melaporkan, bayi yang dibesarkan dengan susu formula memiliki nilai kurang baik dalam matematika, memori, IQ, dan tes fungsi motorik pada usia tujuh tahun dibandingkan dengan teman sebayanya yang mendapat ASI minimal enam bulan pertama kehidupan.


2. Nutrisi cukup dan seimbang
Nah, setelah ASI, di usia 6 bulan ke atas dan berlanjut di masa kanak-kanak, anak perlu diberikan gizi cukup dan seimbang agar pintar. Semua zat gizi, mulai karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral berperan langsung terhadap fungsi dan perkembangan sel-sel otak. Lemak dan protein, misalnya, berperan dalam proses pembentukan otak secara keseluruhan. Bila terjadi kekurangan salah satu zat ini, berdampak pada ukuran otak yang kecil dan jumlah sel otak yang kurang. Demikian juga dengan asam folat yang dapat mencegah kecacatan pada otak, juga zat besi yang sangat berpengaruh terhadap kemampuan intelektualitas anak. Fungsinya sendiri untuk membuat hemoglobin darah yang mengikat oksigen buat otak. Dengan demikian, bila otak kekurangan oksigen akan terjadi gangguan konsentrasi, yang tentunya akan menimbulkan hambatan dalam belajar. 


3. Stimulasi 
Tak kalah penting dengan nutrisi, stimulasi berperan menjadikan anak cerdas. Ibarat komputer yang canggih, tak akan bisa berguna bila tidak diisi dengan software terkini dan modern. Orangtua perlu memberikan stimulasi terbaik sejak bayi. Stimulasi sendiri bukan berarti memberikan mainan mahal, menyekolahkan anak sedini mungkin, atau mengasah keterampilan anak sebanyak yang orangtua bisa. Stimulasi terbaik adalah memberikan rangsangan sesuai dengan tahapan dan kemampuan anak. Di usia bayi, misalnya, anak diajarkan bagaimana agar dia bisa merangkak, merayap, berdiri, dan berjalan. Demikian pula di usia balita, orangtua bisa mengasah kecerdasan berhitung anak dengan mengenalkan angka, berhitung, dan penjumlahan sederhana. 


4. Kesehatan
Jangan abaikan faktor yang satu ini. Bila anak ingin cerdas, maka ia harus sehat. Sebab, semua fungsi tubuh akan berperan maksimal bila kondisinya sehat, termasuk dengan otak kita.  Bagaimana mau cerdas bila anak sakit-sakitan yang menyebabkan tumbuh kembang otaknya terhambat. Saat sudah bersekolah, anak yang sakit tidak akan maksimal menerima pelajaran karena kurang konsentrasi, bahkan harus ketinggalan pelajaran pelajaran dalam waktu lama. Akibatnya, prestasinya pun tidak akan optimal. Untuk itu, jaga kesehatan dengan membiasakan hidup bersih dan sehat, mencuci tangan pakai sabun, membuat jamban sehat, mandi teratur, berolahraga secara rutin, menghindari stres, dan istirahat yang cukup. Dengan cara itu, anak tidak hanya akan lebih sehat, tapi juga jauh lebih cerdas.

CTA

INGIN TAHU LEBIH LANJUT SOAL PENCEGAHAN STUNTING?

Yuk simak penjelasan singkat pada info FAQ berikut ini.

lebih lanjut
To Top